Testimoni Kontak Kami

Kontainer Anda Tertahan di Priok. Ini Biaya yang Sedang Anda Tanggung Sekarang.

Kontainer Anda Tertahan di Priok. Ini Biaya yang Sedang Anda Tanggung Sekarang.

Kontainer Anda Tertahan di Priok. Ini Biaya yang Sedang Anda Tanggung Sekarang.

Saat ini ribuan kontainer tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok, dan setiap hari keterlambatan itu berarti uang yang hilang dari kantong importir industri. Per pertengahan Juni 2026, Bea Cukai mencatat jumlah kontainer yang menumpuk pernah menyentuh hampir 10.000 unit — termasuk komponen otomotif dari perusahaan besar seperti BYD dan Wuling yang sudah mengantongi SPPB tapi belum juga dikeluarkan dari pelabuhan. Ini bukan sekadar berita, ini risiko nyata yang sedang dihadapi rantai pasok industri nasional.


Biaya Keterlambatan yang Lebih Besar dari Dugaan

Biaya yang muncul dari keterlambatan ini jauh lebih besar dari yang banyak orang sadari. GINSI mencatat tarif penumpukan di pelabuhan bisa naik hingga 1.000% dari tarif dasar setelah tiga hari — setara sekitar Rp2,83 juta per hari untuk kontainer 20 kaki, dan Rp5,66 juta per hari untuk kontainer 40 kaki. Itu belum termasuk biaya detention yang dikenakan shipping line secara terpisah selama kontainer mereka belum dikembalikan. Dua biaya ini berjalan bersamaan, dan keduanya terus bertambah setiap hari kontainer Anda diam di lini satu pelabuhan.


Dampak ke Operasional, Bukan Sekadar ke Keuangan

Bagi importir industri, dampaknya bukan cuma soal uang, tapi soal jalannya produksi. Bahan baku dan komponen yang tertahan berarti lini produksi menunggu, jadwal pengiriman ke pelanggan bergeser, dan kebutuhan modal kerja membengkak karena perusahaan harus menyediakan stok cadangan lebih besar untuk mengantisipasi ketidakpastian ini. Ini persis yang memicu Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turun langsung ke Tanjung Priok awal Juni lalu, setelah menerima keluhan pelaku usaha soal terganggunya pasokan bahan baku.


Akar Masalah: Bukan di Administrasi Bea Cukai

Masalah ini terjadi bukan karena proses kepabeanannya lambat. Bea Cukai menegaskan administrasi sudah berjalan sesuai standar — yang menjadi masalah adalah proses setelah SPPB diterbitkan, ketika kontainer tidak segera dievakuasi dari pelabuhan. Ada juga faktor lain yang diangkat GINSI, yaitu kewajiban sertifikasi SNI yang berlaku sejak 20 Mei 2026, yang sampai sekarang masih menyulitkan sebagian importir. Siapa pun yang benar dalam perdebatan ini, importir tetap yang menanggung biayanya setiap hari kontainer itu tertahan.


PLB: Strategi, Bukan Sekadar Solusi Darurat

Di sinilah penggunaan PLB (Pusat Logistik Berikat) menjadi strategi yang relevan, bukan sekadar solusi darurat. Begitu kontainer turun dari kapal, kargo bisa langsung dibawa ke PLB, segera distripping, dan kontainer langsung dikembalikan ke shipping line dalam masa bebas biaya — sehingga biaya detention berhenti hampir seketika dan kontainer tidak lagi menumpuk di yard pelabuhan yang sudah padat. Bea masuk, PPN, dan PPnBM pun bisa ditangguhkan sampai barang benar-benar keluar dari PLB untuk digunakan, bukan dibayar di muka saat barang masih menunggu di pelabuhan. Bagi importir industri, ini berarti akses ke bahan baku lebih cepat, modal kerja lebih ringan, dan eksposur terhadap kemacetan pelabuhan jauh lebih kecil.


Antisipasi, Bukan Tunggu

Pelabuhan yang padat sudah menjadi kondisi yang harus diantisipasi, bukan sekadar ditunggu selesai dengan sendirinya. Volume impor terus tumbuh sementara kapasitas pelabuhan belum sepenuhnya mengikuti, dan kejadian di Priok bulan ini adalah contoh nyata bagaimana risiko itu langsung berdampak ke biaya operasional perusahaan. Importir yang sudah memiliki strategi PLB akan jauh lebih siap menghadapi situasi seperti ini, dibanding yang baru mencari solusi setelah kontainernya sudah tertahan dan biaya sudah berjalan.


TCI dapat membantu importir industri merancang strategi logistik berikat yang tepat untuk mengurangi eksposur terhadap risiko seperti ini. Hubungi tim kami untuk diskusi lebih lanjut.


#LogistikIndonesia #PelabuhanIndonesia #TanjungPriok #BiayaLogistik #PusatLogistikBerikat #PLB #ImporIndonesia #SupplyChainIndonesia #BondedLogistics #RantaiPasok #IndustriManufaktur #TCI #KepabeananIndonesia #DwellingTime #LogistikBerikat

Back To Articles